Laman

Rabu, 22 Agustus 2012

Komunikasi: Sejarah Perkembangan & Mahzab


SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU KOMUNIKASI

Perkembangan ilmu komunikasi mengambil bentuk-bentuk dan arahan yang berbeda di belahan dunia yang berbeda. Sebagai contoh, teori komunikasi memiliki sejarah yang berbeda di Eropa, Asia, dan Afrika daripada di Amerika Serikat. Penelitian komunikasi Eropa lebih dipengaruhi oleh sudut pandang Marxis dan bergantung pada metode kritikal dan cultural. Teori-teori Timur berfokus pada keutuhan dan persatuan, sedangkan pandangan Barat kadang-kadang mengukur bagian-bagian tanpa harus memperhatikan integrasi dasar atau penggabungan bagian-bagian tersebut.

Disamping itu, teori Barat banyak yang didominasi oleh pandangan individualime: semua orang dianggap berhati-hati dan aktif untuk mencapai tujuan pribadi. Sebaliknya, sebagian besar teori Timur cenderung memandang komunikasi sebagai hasil rangkaian kejadian yang tidak direncanakan dan terjadi secara alami.

TRADISI AMERIKA
Tradisi Amerika sangat menonjol perspektif yang positif semenjak dekade 40-an. Terutama pada masa propaganda yang mempercayai dampak kuat media. Demikian pula pengaruh filsafat pragmatis yang dominan di Amerika sehingga dalam perkembangan teori kurang begitu filosofis. Kemudian berkembang terus sampai masa sesudah perang. Ini pula yang kemudian membentuk arus besar dalam kajian komunikasi Amerika dimana penelitian yang bercorak administrative lebih menonjol.

TRADISI EROPA
Ilmu Sosial di Eropa lebih filosofis atau rasionalis, bisa juga dikatakan cenderung idealis. Maka teori-teori yang normatif terasa dari tradisi Eropa. Terutama pula yang berangkat dari pemikiran kritis karena pemikiran Marxist mengakar kuat maka kecenderungan teori komunikasi dari tradisi Eropa dapat dijumpai melalui tradisi kritis.

Namun berkat interaksi keilmuan, di Eropa juga dikembangkan pendekatan empiris, sebagaimana di Amerika pendekatan kritis juga dianut. Kajian empiris memberi perhatian terhadap individu sedangkan kajian kritis memberi perhatian terhadap aspek yang lebih luas yakni relasi antar institusi sosial pada tingkat makro.

Secara umum, tradisi Amerika dan Eropa dapat disebut sebagai tradisi Barat. Maka ciri teori komunikasi dari Barat adalah menempatkan individu dalam posisi yang penting. Paham liberalisme dapat dimengerti karena penelitian-penelitian yang menempatkan individu sebagai titik pusat menjadi penting.

TRADISI TIMUR
            Dalam tradisi timur, manusia tidak dipusatkan sebagai individu namun secara kolektif kemudian juga bersifat keseluruhan daripada parsial. Misalnya dalam melihat tentang manusia juga dihubungkan dengan alam. Hubungan yang harmonis manusia dengan alam merupakan satu kesatuan dalam melihat realitas.

Dalam tradisi Timur masalah emosi menjadi penting. Karenanya di Timur pesan non verbal menjadi penting. Untuk memahami suatu makna orang harus menggunakan perasaan yang mendalam. Bandingkan dengan di Barat yang rasional, orang cenderung untuk secara verbal (to the point).

Ilmu komunikasi dapat menjadi 4 (empat) periode diantaranya :
  1. "Tradisi retorika" yang dimulai sejak zaman yunani kuno.
  2. Periode antara tahun 1900-PD ke II yang dapat disebut sebagai periode Pertumbuhan Ilmu Komunikasi.
  3. Periode setelah PD ke II sampai tahun 1960an. Periode ini biasanya disebut periode Konsolidasi.
  4. Periode Teknologi Komunikasi yang dimulai dari tahun 1960an sampai sekarang.
PERIODE TRADISI RETORIKA
Komunikasi adalah konteks arti yang berlaku sekarang ini memang belum dikenal saat itu. Istilahnya yang berlaku pada zaman tersebut adalah "Retorika". Disebutkan bahwa pada zaman kebudayaan mesir kuno telah ada tokoh-tokoh retorika seperti Kagemi dan Ptah-Hotep. Namun demikian tradisi retorika sebagai upaya yang sistematis dan terorganisasi baru dilakukan di zaman Yunani kuno dengan perintisnya Aristoteles (Golden, 1978). Lebih lanjut Aristoteles menyatakan bahwa retorika mencangkup 3 unsur yakni:
  • ethos (kredibilitas sumber),
  • pathos (hal yang menyangkut emosi/perasaan), dan
  • logos (hal yang menyangkut fakta).
Pokok-pokok pikiran Aristoteles dikembangkan oleh Cicero dan Quintilian mereka menyusun aturan retorika yang menyangkut 5 unsur:
  • Inventio (urutan argumentasi)
  • Dispesitio (pengaturan ide)
  • Eloqutio (gaya bahasa)
  • Memoria (ingatan), serta
  • Pronunciatio (cara penyampaian pesan).
Tokoh retorikal yang dikenal pada saat itu Corax Socrates dan Plato maupun di negara-negara lain khususnya di negara Inggris, Perancis, dan Jerman tokoh yang tekenal adalah Thomas Wilson, Perancis Bacon, Rene Des Cartes, John Locke, Giam Batista Piko, dan David Hume. Pengertian retorika menunjuk pada kemampuan manusia menggunakan lambang-lambang untuk berkomunikasi satu sama lain : I.A Richards, M. Weaver, Stephen Toulmin, Kenneth Burke, Marshall McLuhan, Michel Foucault, Jurgen Habermas, Ernesto Grassi, dan Chaim Perelman.
PERIODE PERTUMBUHAN: 1900 – PERANG DUNIA KE II
Pada awal abad ke-19, sedikitnya ada tiga perkembangan penting yang terjadi. Pertama, adalah telepon, telegrap, radio, TV, dan lain-lain. Kedua, pecahnya Perang Dunia I dan II memberi bentuk dan arah pada bidang kajian ilmu komunikasi yang terjadi di masa ini.
Aspek-aspek yang diteliti mencakup penggunaan teknologi baru dalam pendidikan formal, keterampilan komunikasi, strategi komunikasi instruksional, serta reading dan listening. Sementara di bidang penelitian komunikasi komersial, dampak iklan terhadap khalayak serta aspek-aspek lainnya yang menyangkut industri media mulai berkembang sejalan dengan tumbuhnya industri periklanan dan penyiaran (broadcasting). Jerman dan Perancis, merupakan pusat intelektual terkemuka di dunia.
PERIODE KONSOLIDASI : PD II – 1960an
Periode setelah Perang Dunia II sampai tahun 1960an disebut sebagai periode konsolidasi (Delia, dalam Berger dan Chaffee, 1987). Karena pada masa ini konsolidasi dari pendekatan ilmu komunikasi sebagai suatu ilmu pengetahuan sosial bersifat multidisipliner (mencakup berbagai ilmu) mulai terjadi. Adanya adopsi perbendaharaan istilah-istilah yang dipakai secara seragam. Munculnya buku-buku yang membahas tentang pengertian komunikasi telah menjadi suatu pendekatan yang lintas disipliner dalam arti mencakup berbagai disiplin ilmu lainnya. Sedikitnya ada 7 pokok diantaranya: Claude E. Shannon, Norbert Wiener, Harrold Lasswell. Institute of communication Research yang didirikan Schramm di Illinois pada tahun 1947, merupakan lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi yang pertama di Amerika Serikat.
Istilah Mass Communication (Komunikasi Masa) dan Communication Research (Penelitian Komunikasi) mulai banyak dipergunakan. Cakupan bidang studi komunikasi mulai diperjelas dan dibagi dalam empat bidang tataran : komunikasi intrapribadi, komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok dan organisasi, dan komunikasi macro-sosial serta komunikasi massa.
PERIODE TEKNOLOGI KOMUNIKASI : 1960an – Sekarang

Sejak tahun 1960an perkembangan ilmu komunikasi semakin kompleks dan mengarah pada spesialisasi. Menurut Rogers (1986) perkembangan studi komunikasi sebagai suatu disiplin telah mulai memasuki periode take off (tinggal landas) sejak tahun 1950. Periode masa sekarang juga disebut sebagai periode teknologi komunikasi dan informasi yang ditandai oleh beberapa faktor, yaitu kemajuan teknologi komunikasi dan informasi seperti komputer, VCR, TV Cable parabola. Tumbuhan industri media yang nampaknya tidak hanya bersifat nasional tetapi juga regional dan global. Semakin gencarnya kegiatan ekonomi diseluruh negara, serta semakin meluasnya proses demokratisasi ekonomi dan politik.


MAHZAB ILMU KOMUNIKASI

Craig membagi dunia komunikasi ke dalam tujuh tradisi pemikiran, yaitu:
*     SEMIOTIK
Semiotik atau penyelidikan simbol-simbol, membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam komunikasi. Tradisi ini terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi diluar tanda-tanda itu sendiri. Tanda-tanda tidak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi, melainkan memiliki pengaruh yang sangat kuat pada hampir semua prespektif. Konsep dasar yang menyatukan tradisi ini adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakan  beberapa kondisi lain seperti ketika asap menandakan adanya api. Konsep dasar yang kedua adalah simbol yang biasanya menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti. Perbedaan yang kuat antara tanda dan simbol, semiotik menyatukan kumpulan-kumpulan teori yang berkaitan dengan bahasa, wacana dan tindakan-tindakan non-verbal.

Kebanyakan pemikir semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan bahwa arti muncul dari hubungan diantara tiga hal; benda (atau yang dituju), manusia (penafsir), dan tanda. Dimana arti bergantung pada gambaran atau pikiran seseorang dalam kaitannya dengan tanda dan benda yang direpresentasikan oleh tanda.   

Semiotik terbagai dalam tiga wilayah kajian:
·         Semantik, berbicara bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan apa yang ditunjukan oleh tanda-tanda. Semiotik menggambarkan dua dunia, dunia benda dan dunia tanda yang juga mencerahkan hubungan diantara kedua dunia itu.

·         Sintaktik atau kajian hubungan diantara tanda-tanda. Sintaktik mengacu pada aturan-aturan yang dengan orang mengkombinasikan tanda-tanda ke dalam sistem makna yang kompleks. Semiotik tetap mengacu pada prinsip bahwa tanda-tanda selalu dipahami dalam kaitannya dengan tanda-tanda lain. Peraturan sintaktik mempermudahkan manusia untuk menggunakan kombinasi tanda-tanda yang tidak terbatas untuk mengekspresikan kekayaan makna.

·         Pragmatik, memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda pada kehidupan sosial.

*     FENOMENOLOGIS
Tradisi ini berasumsi bahwa seseorang secara aktif menginterpretasi pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadi. Sebagai contoh, pada masa kanak-kanak, hampir semua orang mulai bertanya tentang pertanyaan-pertanyaan kosmologis ketika mereka memandang langit dan memikirkan luasnya jagat raya.

Stanley Deetz menyimpulkan tiga prinsip dasar fenomenologis. Pertama, pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar. Kedua, makna benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan manusia, bagaimana kita berhubungan dengan benda menentukan maknanya bagi anda. Ketiga, bahwa bahasa merupakan kendaraan makna. Kita memahami dunia melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan atau mengekspresikan dunia itu.

Dalam semiotik, interpretasi dianggap terpisah dari realitas, tetapi dalam fenomenologis, interpretasi biasanya membentuk apa yang nyata bagi seseorang. Realitas dari interpretasi tidak dapat dipisahkan karena interpretasi merupakan proses aktif pikiran dan tindakan dalam mengklarifikasi pengalaman pribadi.

Tiga kajian umum Tradisi Fenomenologis:
·         Fenomenologis Klasik. Husserl meyakini bahwa kebenaran melalui kesadaran terfokus, kebenaran dapat diyakini melalui pengalaman langsung dengan disiplin dan harus mengesampingkan atau mengurungkan kebiasaan dalam melihat segala sesuatu agar dapat mengalami dengan sebenar-benarnya.

·         Fenomenologis Presepsi. Segala sesuatu tidak ada dengan sendirinya dan terpisah dari bagaimana semuanya diketahui. Adanya dialog anatara manusia sebagai penafsir dan benda yang mereka tafsrikan.

·         Fenomenologis Hermeneutik. Heidegger menyakini bahwa realitas sesuatu itu tidak diketahui dengan analisis yang cermat atau pengurangan, melainkan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Fenomenologis ini menyatukan pengalaman dengan interaksi bahasa dan social.

*     SIBERNETIKA
Tradisi ini berkaitan dengan proses pembuatan keputusan. Tradisi sibernetik berangkat dari teori sistem yang memandang terdapatnya suatu hubungan yang saling menggantungkan dalam unsur atau komponen yang ada dalam sistem. Hal lain yang penting adalah sistem dipahami sebagai suatu sistem yang bersifat terbuka sehingga perkembangan dan dinamika yang terjadi di lingkungan akan diproses didalam internal sistem.

Sibernetika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang didalamnya banyak orang saling berinteraksi, memengaruhi satu sama lain. Teori-teori dalam sibernetika menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial, dan perilaku bekerja. Komunikasi dipahami sebagai bagian atau variabel yang saling memengaruhi satu sama lain, membentuk, serta mengontrol karakter keseluruhan sistem, dan layaknya organisme, menerima keseimbangan dan perubahan.

Ide sistem merupakan inti pemikiran Sibernetika. Dimana sistem merupakan seperangkat komponen yang saling berinteraksi, yang bersama-sama membentuk sesuatu yang lebih dari sekedar sejumlah bagian-bagian. Bagian apapun dari sebuah sistem selalu dipaksa oleh ketergantungan. Namun, sistem tidak akan bertahan tanpa mendatangkan asupan-asupan baru dalam bentuk input. Input dan output terkadang berupa materi-materi nyata atau dapat pula berupa energi dan informasi.

Sebagai wilayah kajian, sibernetika merupakan cabang dari teori sistem yang memfokuskan diri pada putaran timbal balik dan proses-proses kontrol, konsep ini mengarahkan pada pertanyaan tentang bagaimana sesuatu saling memengaruhi satu sama lainnya dalam cara yang tidak berujung, bagaimana mempertahankan kontrol, bagaimana mendapatkan keseimbangan, serta bagaimana putaran timbal balik dapat mempertahankan keseimbangan dan membuat perubahan.

*     SOSIOPSIKOLOGIS
Kajian indivisu sabagai makhluk sosial merupakan tujuan dari tradisi sosiopsikologis. Tradisi ini berfokus pada perilaku sosial individu, variabel psikologis, efek individu, kepribadian dan sifat, persepsi serta kognisi. Pandangan ini juga melihat pikiran individu sebagai tempat memproses dan memahami informasi serta menghasilkan pesan.

Tradisi dalam sosiopsikologis dapat dibagi menjadi tiga cabang besar:
·           Perilaku. Teori-teori berkonsentrasi pada bagaimana manusia berperilaku dalam situasi-situasi komunikasi. Dalam kaitannya dengan beberapa variable, seperti sifat pribadi, perbedaan situasi dan pembelajaran. Ketika perilaku tertentu diberi penghargaan, perilaku tersebut akan diulang. Para ahli psikologis menyebutnya “pembelajaran (learning)”. Ketika respon diberi hukuman, perilaku tersebut akan berhenti atau “unlearned”.

·           Kognitif. Berpusat pada bentuk pemikiran, berkonsentrasi pada bagaimana individu memperoleh, menyimpan, dan memproses informasi dalam cara yang mengarahkan output perilaku, tidak hanya dalam bentuk stimulus-respon, melainkan pada operasi mental yang digunakan untuk mengelola informasi.

·           Biologis. Sifat, cara berpikir, dan perilaku individu diikat secara biologis dan didapat bukan hanya dari pembelajaran atau faktor-faktor situasi, melainkan dari pengaruh-pengaruh neurobiologis  sejak lahir.

*     SOSIOKULTURAL
Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukan cara pemahaman manusia terhadap makna, norma, peran dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi. Realitas bukanlah seperangkat susunan di luar manusia tetapi dibentuk mealui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas dan budaya.

Tradisi ini memfokuskan diri pada bentuk-bentuk interaksi antar manusia daripada karakteristik individu atau model mental. Interaksi merupakan proses dan tempat makna, peran, peraturan, serta nilai budaya yang dijalankan.

Sosiokultural mempunyai beberapa sudut pandang yang berpengaruh, yaitu:
·           Interaksi simbolis (symbolic interactionism). Bersal dari kajian sosiologi menekankan pentingnya observasi partisipan dalam kajian komunikasi sebagai cara dalam mengeksplorasi hubungan-hubungan sosial (Herbert Blumer dan George Herbert Mead).

·           Konstruktivisme social (social construstionism). Identitas benda dihasilkan dari bagaimana kita berbicara objek, bahasa yang digunakan untuk menangkap konsep dan cara-cara kelompok social menyesuaikan diri pada pengalaman umum.

·           Sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya. Manusia menggunakan bahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok sosial yang berbeda dan merupakan bentuk yang menentukan jati diri kita sebagai makhluk sosial dan berbudaya.

·           Etnografi atau observasi tentang bagaimana kelompok social tertentu membangun makna melalui perilaku linguistik dan non linguistik.

·           Etnometodologi (ethnomethodology) atau observasi yang cermat akan perilaku-perilaku kecil dalam situasi-situasi nyata. Etnometodologi melihat bagaimana mengelola atau menghubungkan perilaku dalam interaksi sosial pada waktu tertentu. Dan mempengaruhi percakapan, termasuk cara-cara partisipan mengelola alur percakapan dengan bahasa dan perilaku non-verbal.

*     KRITIK
Tradisi kritik mencoba memahami sistem yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan dan keyakinan atau ideologi yang mendominasi masyarkat, dengan pandangan tertentu dimana minat-minat disajikan oleh struktur-struktur kekuatan tersebut. Para ahli teori kritik pada umumnya tertarik dengan membuka kondisi-kondisi sosial yang menindas dan rangkaian kekuatan untuk mempromosikan emansipasi atau masyarakat yang lebih bebas dan bercukupan. Teori kritik menciptakan kesadaran untuk menggabungkan teori dan tindakan.

Tradisi ini berangkat dari asumi teori-teori kritis yang memperhatikan terdapatnya kesenjangan di dalam masyarakat. Proses komunikasi dilihat dari sudut kritis bahwa komunikasi disatu sisi telah ditandai dengan proses dominasi oleh kelompok yang kuat atas kelompok masyarakat yang lemah. Pada sisi lain, aktifitas komunikasi mestinya menjadi proses artikulasi bagi kepentingan kelompok masyarakat yang lemah. Tradisi ini dapat menjelaskan baik lingkup komunikasi antar personal maupun komunikasi bermedia.

Ada keempat cabang tambahan yang dapat dikelompokkan dengan teori kritik yang melanggar modernitas dengan cara yang beragam: post-modernisme, post-kolonialisme, post-strukturalisme dan kajian feminis.
·           Post-modernisme. Perpecahan modernitas dan proyek pencerahan. Bertepatan dengan akhir dari masyarakat industri dan munculnya sebuah zaman informasi, dengan produksi barang-barang yang telah diberi jalan untuk memproduksi dan memanipulasi pengetahuan. Ditandai dengan sifat relativitas, tidak ada standarisasi nilai, menolak pengetahuan yang sudah jadi dan dianggap sebagai sesuatu yang sakral (grand narative). Menghargai hal-hal yang lokal, keunikan, dan semacamnya.

·           Post-strukturalime.bagian dari post-modernisme yang mengolah usaha modern dalam menemukan kebenaran-kebenaran universal, naratif, metode, dan makna yang digunakan untuk mengenal dunia. Pandangan yang memandang realitas merupakan sesuatu yang kompleks dan selalu dalam proses sedang menjadi. Realitas tidak sebagaimana pandangan kalangan strukturalis yang melihat sudah bersifat teratur, tertata, dan terstruktur. Realitas merupakan suatu proses pembentukan yang berlangsung terus menerus dengan melibatkan banyak kalangan dengan identitas masing-masing.
Yang menonjol adalah adanya proses artikulasi dari masing-masing kalangan.

·           Post-kolonialisme. Mengacu pada kajian “semua kebudayaan dipengaruhi proses kekaisaran dari era kolonialisasi sampai hari ini”. Intinya adalah proses penjajahan menciptakan “kebedaan” yang bertanggung jawab bagi gambaran yang disterotipkan pada populasi bukan kulit putih.

·           Feminisme. Fokus pada gender dan mencari perbedaan antara seks, sebuah kategori biologis dan gender, sebuah konstruksi sosial.

*     RETORIKA
Tradisi retorika memberi perhatian pada aspek proses pembuatan pesan atau simbol. Prinsip utama disini adalah bagaimana menggunakan simbol yang tepat dalam menyampaikan maksud. Dalam media berkaitan dengan proses pembuatan kebijakan keredaksian, merancang program acara, penentuan grafis. Prinsip bahwa pesan yang tepat akan dapat mencapai maksud komunikator. Kemampuan dalam merancang pesan yang memadai menjadi perhatian yang penting dalam kajian komunikasi.

Pusat dari tradisi retorika adalah kelima karya agung terorika, yaitu penemuan, penyusunan, gaya, penyampaian dan daya ingat.
·         Penemuan. Mengacu pada konseptualisasi, proses dimana menentukan makna dari symbol melalui interpretasi, respon terhadap fakta.
·         Penyusunan. Pengaturan simbol-simbol dalam menyusun informasi dalam hubungannya diantara orang-orang, symbol-simbol,  dan konteks yang terkait.
·         Gaya. Berhubungan dengan semua anggapan yang terkait dalam penyajian dari semua simbol, mulai dari memilih sistem simbol sampai makna yang kita berikan pada semua simbol itu.
·         Penyampaian. Menjadi perwujudan dari simbol-simbolk dalam dalam bentuk fisik, mencangkup pilihan non-verbal untuk berbicara, menulis dan memediasikan pesan.
·         Daya Ingat. Mengingat budaya sebagaimana dengan proses persepsi yang berpegaruh pada bagaimana seseorang menyimpan dan mengolah informasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

coment-coment